Belum selesai masalah kriminalisasi KPK, kini hukum di negeri kita kembali dipertanyakan. Seorang nenek disidang karena mencuri tiga buah kakao atau buah cokelat. Sungguh ini adalah sebuah ironi yang sangat menyesakkan dada kita. Hanya karena mencuri buah kakao saja, seorang nenek harus menghadapi sidang. Dimana hati nurani mereka? Menurut pemilik perkebunan, ini adalah sebuah pelajaran agar jera dan tidak mencuri lagi. Tapi, ini mengundang reaksi yang keras dari berbagai kalangan, termasuk pemimpin sidang. Seorang nenek yang kehidupannya sederhana saja bisa menghadapi sidang karena mencuri buah kakao, tapi mengapa para pejabat yang korupsi dan mencuri uang rakyat bisa melenggang dengan santai di luar sana? Apakah hukum di negeri kita ini hanya milik mereka yang memiliki uang? Lalu, dimana pengamalan Pancasila terutama sila kelima yang berbunyi “Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia”? Sungguh percuma jasa para pahlawan Revolusi kita berjuang untuk mempertahankan Pancasila sebagai dasar negara kita. Karena, saat ini Pancasila hanya sebagai simbol negara saja. Apalagi, saat ini sudah tidak ada lagi penghormatan atas jasa mereka dalam mempertahankan Pancasila pada hari Kesaktian Pancasila. Pancasila kini benar-benar hanya simbol semata. Bukan dasar negara kita lagi. Kalimat seperti ini yang akan selalu terucap dari hati dan mulut saya jika melihat keadaan negara kita. Sebagai generasi penerus bangsa, saya sendiri masih mendalami dan berusaha untuk mengamalkan Pancasila dalam kehidupan saya. Walaupun belum sepenuhnya, tapi saya masih ingin menghargai jasa para pahlawan revolusi yang telah berjuang untuk mempertahankan Pancasila.
Kemali ke pokok masalah, ukum di negara kita ini masih berat sebelah. Seorang pencuri ayam saja bisa dihakimi oleh masyarakat, bahkan dibakar. Jika masuk penjara, maka akan mendapatkan waktu hukuman yang cukup lama dan siksaan dari penghuni lain. Berbeda dengan para pejabat yang melakukan tindak pidana korupsi. Mereka akan mendapatkan waktu hukuman yang cukup singkat dan juga servis yang baik di penjara. Perbedaan ini sangat mencolok. Apakah hukum di negara kita ini hanya memihak pada mereka yang memiliki banyak uang? Jika memang masih jiwa Pancasila di dalam hati kita, tentu saja semua ini tidak akan pernah terjadi. Bagaimana tanggapan para sahabat tentang Hukum yang ada di negara kita?

Incoming search terms for the article:

hukum yang tidak adil di indonesia,pengertian kesaktian pancasila,hukum yang tidak adil