Tawuran antar pelajar
Tawuran antar pelajar

Pastinya kita semua bangga jika kita, atau saudara kita bisa diterima di sebuah sekolah atau perguruan tinggi yang terkenal. Bahkan kita seringkali menjadi sosok panutan untuk adik-adik kita ataupun saudara kita untuk bisa masuk ke sekolah atau perguruan tinggi yang menjadi favorit. Namun tentu saja kita harus memberikan contoh yang baik kepada adik atau saudara kita yang telah menjadikan kita sebagai panutan. Namun apa yang terjadi jika kita memberikan contoh yang buruk kepada adik atau saudara yang telah menjadikan kita sebagai panutan? Tentu saja mereka akan mengikuti jejak kita. Hal inilah yang sangat sering terjadi dikalangan pelajar atau mahasiswa yang ada di negara kita. Memberikan contoh yang buruk kepada adik atau penerusnya. Berbagai contoh negatif atau contoh buruk tentu saja akan mempengaruhi pola pikir penerusnya.

Di sekolahan, tentunya kita diajari oleh para guru kita untuk menyelesaikan masalah dengan baik-baik. Bahkan kita dilarang untuk berkelahi atau bahkan tawuran. Sebagai orang-orang yang berpendidikan, tentu saja bimbingan dan juga arahan yang positif dari guru, harus kita laksanakan. Namun, haruskah kita menyebut para siswa atau mahasiswa yang lebih suka tawuran atau berkelahi untuk menyelesaikan masalahnya sebagai pelajar? Karena yang saya lihat, mereka hanya mengandalkan kekuatan otot dan emosi saja untuk menyelesaikan masalahnya. Jika mereka tinggal di Papua yang mayoritasnya adalah penduduk primitif yang kurang mendapatkan pendidikan secara formal, maka saya bisa memakluminya. Karena mereka tidak pernah bisa mengetahui bahwa pertempuran atau tawuran itu salah. Namun par siswa atau mahasiswa yang suka sekali tawuran ini, mendapatkan pendidikan formal yang lebih dari suku yang ada di Papua, mengapa mereka tidak berbeda dengan orang-orang yang tidak pernah mendapatkan pendidikan formal? Lebih suka mengandalkan otot dan juga emosi untuk menyelesaikan masalahnya.

Berbagai dampak negatif akibat ulah mereka yang tidak terlalu pintar mengakibatkan banyak kerugian. Diantaranya adalah:

  1. Pandangan buruk masyarakat terhadap sekolah ataupun universitas tempat mereka belajar tentu saja akan semakin buruk. Hal ini akan merugikan pihak sekolah karena mereka semakin kehilangan citra baik akibat ulah siswa atau mahasiswa yang kurang pintar tersebut.

  2. Citra buruk terhadap diri mereka sendiri. Mereka akan dikenal di masyarakat bahwa mereka adalah siswa atau mahasiswa yang sangat suka berkelahi atau tawuran. Bahkan mereka bisa dicap sebagai orang yang tidak berpendidikan.

  3. Nama baik orangtua mereka akan semakin berkurang atau bahkan mereka membangkitkan nama buruk orang tua mereka dengan kelakuan mereka yang kuran pintar tersebut.

Dari sinilah pengaruh ataupun dampak buruk terhadap adik atau saudara kita yang telah menjadikan kita sebagai panutan mulai timbul. Haruskah kita menghancurkan semua kepercayaan dan juga rasa kagum adik atau saudara kita yang telah menjadikan kita sebagai panutan, dengan tindakan-tindakan yang kurang pintar seperti tawuran, berkelahi, atau perilaku buruk lain? Jika kita tidak ingin mengecewakan ataupun menghancurkan rasa percaya mereka yang telah menjadikan kita sebagai panutan, maka hentikanlah bersikap seperti orang-orang yang tidak berpendidikan. Sebagai pelajar, seharusnya kita belajar. Banyak sekali orang-orang yang kurang mampu yang ingin belajar seperti kita. Namun karena tidak memiliki biaya, mereka tidak mampu mewujudkan harapan mereka untuk belajar. Sedangkan kita yang telah memiliki cukup biaya dan juga telah mendapatkan pendidikan yang layak, seharusnya kita benar-benar memanfaatkan kesempatan tersebut dengan baik. Bukankah ilmu yang kita dapatkan dari sekolah nantinya akan bermanfaat bagi diri kita dan juga orang lain?

Incoming search terms for the article:

tawuran antar stm,TAWURAN ANTAR SMP,contoh tawuran di indonesia