Bagi saya, kehidupan di desa merupakan sebuah anugerah yang sangat indah yang diberikan oleh Allah SWT kepada saya. Jujur saja, dulu saya memang tidak pernah betah jika harus tinggal di desa. Karena, jika tinggal di desa, maka akan jauh dari pusat perbelanjaan seperti Swalayan, tempat nongkrong, hingga tempat sahabat. Namun, kini saya bisa menerimanya dengan senang dan lapang dada.

Sejak kelas 2 SD, saya memang tingga di desa Alasmalang, Kemranjen, Banyumas. Hingga saya lulus SD, saya baru bisa pindah ke pinggiran kota Purwokerto. Selama hidup di desa, permainan yang ada di sini masih tradisional. Mulai dari egrang atau engrang, mainan dari tanah liat, hingga permainan yang kini sangat jarang saya temui yaitu gobag sodor. Begitu pindah ke kota, saya seringkali heran dengan permainan yang sedang musim pada saat itu, yaitu nintendo. Nintendo adalah permainan tekhnologi yang pertama kali saya miliki. Namun, saat pindah ke Semarang pada tahun 1999, permainan saya mulai maju. Permainan yang musim pada saat itu adalah Play Station 1. Hingga akhirnya saya kembali lagi ke Purwokerto pada tahun 2001. Permainan saya pun mulai bertambah maju, PS2. Rasa rindu akan permainan tradisional dan kehidupan di desa mulai terasa pada tahun 2005, atau awal mulanya kami kembali menghuni rumah keluarga yang telah ditinggalkan selama hampir 8 tahun.

Namun, tidak secepat itu saya bisa menerima kehidupan yang di desa kembali. Saya lebih suka bermain di Purwokerto hingga jarang pulang. Hingga akhirnya saya sadar, bahwa kehidupan saya bukanlah sebagai seorang pemuda yang lebih suka dengan kehidupan kota. Saya hanyalah seorang pemuda dari desa yang belum mengerti tentang kehidupan. Hingga akhirnya, saya memilih untuk melanjutkan kehidupan saya di desa dengan sederhana. Dari sinilah saya mulai bisa memahami arti kehidupan sederhana di desa. Rasa damai dan tenang yang jarang saya temui di kota, bisa saya temukan di sini. Kehidupan malam yang sunyi, membuat saya bisa mendengarkan suara serangga dan hewan malam yang lain dengan jelas. Suasana pagi yang sejuk dan segar, membuat saya lebih semangat dalam menyambut pagi. Udara yang asih bersih karena rumah kami masih dikelilingi oleh pohon-pohon yang cukup tinggi di kebun kami, membuat udara pada pagi yang cerah menjadi lebih segar. Suara anak kecil saat mereka sedang bercanda di sungai, membuat saya bisa mengenang masa kecil saya.

Saat saya mulai mengenal dunia internet, hanyalah sinyal GPRS yang setia menjembatani handphone, komputer saya ke dunia internet. Hingga saat ini, saya masih bahagia menggunakan sinyal GPRS yang ada di desa untuk menghubungkan notebook saya ke internet. Walaupun saya harus sering melakukan update blog, update linux, mencari informasi baru, hingga melakukan blog walking ke blog para sahabat. Beginilah kehidupan di desa. Hanyalah GPRS yang bisa menjembatani anda ke dunia internet. Jika anda ingin berkunjung ke rumah saya, siapkanlah mental, modem GSM atau 3G. Semua itu jika anda membawa laptop atau notebook saat berkunjung ke rumah saya. Karena, anda tidak akan mendapatkan akses internet dengan kecepatan tinggi saat anda berada di rumah saya.

Incoming search terms for the article:

hidup di desa,keuntungan hidup di desa,kelebihan tinggal di desa

Related Post