Sebelumnya, saya pernah menuliskan tentang Kisah Pemburu dari Indonesia dan juga Kisah Pemburu dan Petani. Kali ini, saya hanya ingin menuliskan tentang kisah-kisah para pemburu yang gagal dalam mendapatkan buruannya di negeri tetangga. Karena saat ini banyak sekali permasalahan yang dialami oleh para pemburu atau lebih tepatnya para TKI yang bekerja di negeri tetangga. Berbagai berita tentang kegagalan mereka dalam mendapatkan impian yang berujung tidak pernah dibayarnya upah mereka, siksaan dari majikan mereka, atau yang paling tragis adalah kepulangan badan mereka yang tidak memiliki nyawa lagi atau meninggal karena siksaan, atau bunuh diri karena tidak mendapatkan kebebasan. Berita seperti ini sering kali menghiasi acara berita di televisi ataupun kolom berita di surat kabar. Sungguh sangat menyedihkan sekali.

Hampir lebih dari 4 juta warga negara kita diekspor ke negeri-negeri tetangga sebagai TKI. Ini terhitung sangat besar, karena hampir sebagian besar dari TKI yang diekspor berstatus sebagai pembantu rumah tangga. Mereka rela menjual apa yang dimiliki dikampung halamannya, untuk meraih impiannya menjadi orang kaya dengan merantau ke negeri tetangga. Memang banyak orang yang berhasil. Namun tidak sedikit pula yang harus pulang dengan keadaan yang tidak lengkap karena siksaan, atau bahkan tanpa membawa uang sepeserpun karena upah mereka tidak dibayar oleh majikan mereka. Bahkan ada yang harus pulang dalam keadaan berbadan dua karena mengandung anak dari majikan mereka. Yang lebih parah lagi, mereka pulang dalam keadaan tidak bernyawa lagi. Tentu saja ini selalu menjadi momok yang akan selalu mengahntui para TKI yang masih merantau.

Kita datang ke negeri tetangga dengan status pekerja, serta sering kali mendapatkan siksaan dari para majikan. Namun, jika orang-orang luar negeri datang ke negara kita, kita jamu dengan ramah. Bahkan sering kali kita seperti merendahkan diri kita sendiri didepan orang-orang tersebut. Sungguh berbanding terbalik dengan keadaan TKI yang sering kali mendapatkan siksaan. Melihat keadaan seperti ini, apakah anda yang bercita-cita ingin menjadi TKI di negeri tetangg masih ingin berburu disana?

Sebenarnya jika kita bisa memanfaatkan kemampuan yang kita miliki,pasti kita bisa berhasil. Namun, iming-iming cepat kaya dinegeri tetangga masih selalu menjadi impian dari sebagian warga negara kita ini. Terlebih lagi para kaum-kaum elit politisi yang duduk tenang di sana yang masih sibuk memperkaya diri mereka selagi masih bisa. Sungguh kesenjangan sosial seperti ini tidak akan pernah hilang dari negara kita yang katanya demokrasi ini.