Bagi anda yang sering berselancar di dunia internet, pasti anda mengenal berbagai macam situs-situs jejaring sosial atau Social Network seperti Facebook, Twitter, Friendster, My Space, dan lain-lain. Bahkan, anda pasti memiliki akun dari salah satu situs-situs tersebut, atau bahkan anda memiliki semua akun dari situs-situs tersebut. Apalagi, saat ini banyak sekali penyedia situs berbasis Social Network. Namun, sering kali kita menemukan banyak penyalahgunaan dari situs-situs Social Network tersebut. Terlebih, saat ini banyak kasus-kasus yang cukup ramai dibicarakan orang tenang penyalahgunaan situs-situs Jejaring sosial.

Kemudahan orang untuk menyalahgunakan situs jejaring sosial untuk berbuat kejahatan membuat orang-orang yang tidak bertanggung jawab menggunakan situs-situs jejaring sosial untuk mencari mangsa. Sebagai contoh, kasus anak-anak dibawah umur yang hilang sejak mengenal seseorang yang jauh melalui Facebook. Semua ini karena anak-anak ini belum paham dengan motif kejahatan yang dilakukan oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab tersebut. Selain karena pendidikan tentang dunia internet yang masih minim, peran serta orang tua dalam memantau anak-anaknya juga bisa menjadi pokok permasalahannya. Peran orang tua untuk engajarkan anak-anaknya tentang dunia internet dan juga bahayanya sangat diperlukan. Namun, jika orang tuanya Gaptek, tentu ini akan menjadi masalah yang cukup rumit. Pendidikan di sekolahan juga tidak pernah mengajarkan tentang bagaimana baik dan buruknya dunia internet.

Lalu, kita mau menyalahkan siapa jika kasus-kasus seperti ini terjadi kembali? Kita tidak bisa menyalahkan orang tua, atas kelalaiannya dalam memberikan pengarahan. Kita tidak bisa menyalahkan sekolah atas tidak diberikannya pendidikan tambahan tentang dunia internet. Terlebih lagi, kita tidak bisa menyalahkan penyelenggara situs jejaring sosial tersebut, karena mereka hanya membuat dan menyediakan wadah bagi kita untuk berkomunikasi dan juga berinteraksi melalui situs yang mereka buat.

Kemudahan untuk menggunakan nama samaran atau nama palsu dalam sebuah situs jejaring sosial bisa menjadikan para penjahat ini leluasa untuk menipu para korbannya. Selain sulit mencari jejak dari para penjahat ini, korban hanya bisa mengingat nama samaran atau nama palsu dari penjahat, namun tidak pernah tahu nama sebenarnya. Ini yang semakin membuat para penyidik dan juga petugas hukum menelusuri jejak para penjahat ini. Yang paling menakutkan adalah, terdapat sindikat perdagangan manusia dalam situs-situs jejaring sosial, yang siap mencari mangsanya. Oleh karena itu, sebaiknya kita waspada. Terlebih, jika kita memiliki anak, saudara, atau sahabat yang baru mengenal dunia internet dan juga mengikuti sebuah situs jejaring sosial, sebaiknya kita ikut mengarahkan dan juga memberikan pengertian, serta dampak baik dan buruknya. Karena, peran kita yang telah lebih dulu mengenal dunia internet serta telah mengetahui mana yang baik dan buruknya, harus bisa membagi ilmu yang kita miliki kepada mereka yang belum mengerti. Semua ini agar kejahatan-kejahatan seperti ini tidak terulang kembali.

Incoming search terms for the article:

penyalahgunaan jejaring sosial,situs jejaring sosial,kasus jejaring sosial