Pada tanggal 10 Juli 2010, saya bersama sahabat saya, Amri MF, berangkat menuju Joglo Abang, Jogja, untuk memenuhi undangan dari sahabat saya, Mbah Sangkil dan Demang Suryaden. Berangkat pagi hari, diantar oleh salah satu enggota baru Blogger Banyumas dari Kemranjen, Septian Deni, saya menuju Stasiun terdekat dari Kemranjen, yaitu stasiun Kroya. Sebenarnya Kemranjen memiliki stasiun, namun karena kecil, Stasiun Kereta Kemranjen jarang sekali disinggahi oleh kereta api-kereta api yang melaluinya. Pada pukul 06.00 WIB, saya tiba di stasiun kereta api Kroya. Saat memesan tiket Kereta Api Logawa, saya sempat heran dengan orang yang ada disamping saya.

Percaloan didepan loket tiket kereta api
Percaloan didepan loket tiket kereta api

Seorang bapak tua yang berusaha untuk menjadi calo tiket kereta api kepada sepasang suami istri. Padahal, mereka berada didepan loket pembelian tiket kereta api di stasiun kereta api Kroya. Bahkan bapak tua tersebut tidak mengindahkan baliho yang bertuliskan tentang Undang-undang yang melarang para penumpang untuk membeli tiket dari para calo. Namun, tanpa rasa bersalah, sepasang suami istri tersebut membeli tiket dari sang calo. Bahkan ada seorang calo tiket kereta api yang menyerobot antrian yang panjang, untuk membelikan tiket kereta api penumpang yang telah membeli darinya.

Para petugas yang ada di stasiun tersebut, terkesan membiarkan para calo-calo tiket kereta api tersebut untuk beraksi. Mereka seperti membutakan mata mereka sendiri terhadap aksi dari calo yang telah melanggar Undang-undang tentang praktik percaloan. Jika seperti itu, buat apa pemerintah susah payah membuat undang-undang yang tidak bermanfaat tersebut? Inilah salah satu keburukan dari negara kita. terlalu banyak undang-undang yang dibuat, namun hanya sebagai pemenuhan permintaan dari para pejabat yang tidak bertanggung jawab. Mereka membuat undang-undang tersebut hanya untuk mendapatkan uang yang akan masuk kedalam kantong mereka. Seperti undang-undang yang mengharuskan para pengendara sepeda motor untuk menyalakan lampu motornya pada siang hari, namun hingga saat ini Undang-undang tersebut akhirnya menjadi sampah.

Praktek percaloan yang benar-benar mencolok mata, karena mereka lakukan secara terang-terangan didepan loket pembelian tiket kereta api, membuat saya semakin muak dengan ulah-ulah para elite politik yang selalu berusaha untuk membuat undang-undang baru yang tidak berguna, hanya untuk memenuhi kantong baju mereka. Saat ini siapa yang mau disalahkan? Calo berusaha encari uang dengan cara menjual tiket kepada penumpang yang enggan untuk antri. Penumpang, mereka ingin cepat mendapatkan tiket kereta api tanpa harus mengantri. Undang-undang, hanyalah peraturan yang dibuat untuk dilanggar. Lalu, siapakah yang benar-benar patut untuk disalahkan?

Incoming search terms for the article:

video kang enben,undang undang percaloan,uu pencaloan